berdegub rasa
bungkamku menahanku
maluku menundukkanku
tapi egoku ingin mu memintaku
kaku..
kelu..
hingga detik berlalu
dan tiba-tiba rasa sudah menjadi milikku

none

peluhku mengaliri punggungku
lirih aku berdendang
klumat-klumit mengikuti lenggokan jari-jemari menari
ujung kukumu menggelitiku
bibir keringmu menggumuli tengkukku
berdesir
desah melenguh mengaduh
nafasku menderu
menahan letup emosi raga dalam kelunya beku
aku kaku
mati rasaku
dan diam, senyap meratap
hanya lunglai ongkang kaki-kaki di ujung ranjang ungu
penat dan lekat tubuhku terlipat
lengket perutku

lelehan feromonmu menidurkanku
tercium aroma sisa lendir-lendirmu
anyir
seperti wangi tahu langu
berbau
disini
dan aku kaku
mati rasaku

none

jatuh tersauk
patah sudah kayuku
membiru luka karenaku

none

serunai lembut berayun melodi melayu
lagu pilu sayup dalam penantian kekasihku
tersentuh ari terhembus bayu
teduh.. dan aku pun merindu

duh..
tak tahu kah kau hati tlah terpaut kecupan senja?
yang menjingga melukis langit menjadi berwarna
yang rupawan mampu menghantarkan malam

menggurat tipis segaris surya di balik mega
merongrong jiwa mengisi hampa
rindu mengalir bak tangisan langit pada bumi
bertebar menembus relung raga di

none

hanya rintik gerimis yang bernyanyi
menderu orang-orang berlari
tapi tak satupun yang berhenti menyapaku disini

hai pujangga disana
yang selalu bersyair tentang cinta
tahukah kau aku perempuan yang pernah berduka karena cinta
hanya lara masih saja tak hilang
sering pergi hanya untuk kembali

dan pagiku masih berembun sepi
masih bersama rintik gerimis yang bernyanyi

none

Categories

Blogroll

Lahir dan mati adalah eksistensi. Dua titik yang kutau baru itu yang membuka pintu dari waktu ke waktu, bukan ruang ke ruang. Karena hanya ruh yang berpindah. Tanpa sekat dan tanpa batas.

Dari rajutan titik-titik, hidup pun tergaris. Dan diantaranya, catatan ini ada. Menjadi catatan kaki dari langkah hidup yang bergemulai untuk dinikmati atau dicaci maki..

Most commented

  • None found